Pengumuman SNMPTN memang sudah berlalu dua mingggu yang lalu. Tapi tentu tak ada salahnya kami kembali mengucapkan selamat datang (lagi) pada anggota keluarga baru Formabaya. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, tradisi wellcome party (atau lebih dikenal dengan we-pe) masih tetap berlaku untuk angkatan 2010 ini. Sebuah awal perjumpaan mahasiswa baru dan teman-teman yang sudah berstatus mahasiswa Surabaya, sebuah proses awal pengakraban sebelum akhirnya sama-sama merantau ke lain Kota.
Untuk tahun ini ada sedikit perbedaan dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika beberapa tahun terakhir acara diselenggarakan di Kebun Rakyat, kali ini panitia (yang sudah merasa bosan dengan suasana yang sama dalam beberapa acara) memutuskan memindahkan lokasi acara ke Aloon-Aloon Kota Blitar.
Rangkaian acara secara garis besar masih sama dengan sebelumnya : sambutan oleh ketua panitia, penjelasan apa itu Formabaya dari Ketua, Hanugroho Sasmita Aji, dilanjutkan beberapa permainan untuk mengakrabkan anggota baru, dan diikuti ngobrol bareng untuk saling tukar informasi antara mahasiswa lama dan para calon mahasiswa.Tapi ada satu hal yang terasa sangat berbeda antara tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya, dan kiranya perlu menjadi catatan penting. Jika selama ini welcome party paling banyak diikuti sekitar 40an anggota, acara yang dilaksanakan tanggal 18 juli yang lalu ini dihadiri sekitar 60 anggota, dan tercatat ada 43 anggota baru yang hadir dan sisanya adalah anggota lama. Sebuah angka yang cukup besar untuk keanggotaan baru Formabaya. Perlu diingat bahwa dalam beberapa tahun terakhir (2007, 2008, 2009, 2010) angka ini adalah angka terbanyak untuk jumlah mahasiswa baru yang hadir.
Suatu capaian tersendiri memang. Namun sekaligus menjadi PR besar bagi pengurus selanjutnya untuk “mempertahankan” mereka agar tetap aktif dan tergabung menjadi keluarga besar Formabaya. Evaluasi dari yang selama terjadi adalah pada awalnya minat setiap anggota untuk bergabung memang besar, namun pada akhirnya, seiring berjalannya segala aktifitas dan kesibukan di kampus masing-masing, “terlepaslah” satu persatu darimereka dan hanya menyisakan beberapa gelintir yang tetap menjalankan roda kepengurusan Formabaya. Seakan keluarga besar ini dinomorduakan dengan berbagai alasan yang hanya mereka masing-masing yang tahu.
Dan sekarang, ketika teman-teman telah berhasil menyatukan sedemikian banyak anggota, pertanyaan yang terlintas adalah : mau dibawa kemana mereka? akan di biarkan “terlepas” satu persatu seperti pengalaman sebelumnya, atau dicari sebuah usaha untuk tetap merekatkan mereka menjadi satu keluarga besar mahasiswa Blitar di Surabaya? Tentu yang terbaik untuk Formabaya yang kita harapkan. (Na)
Jumat, 23 Juli 2010 | 11:34 WIBSURABAYA- Pemkot dan DPRD Kota Surabaya menagih penyelesaian kasus cagar budaya di Stasiun Semut kepada PT Kereta Api (KA) dan PT Senopati Perkasa (SP). Tagihan dilayangkan karena janji PT KA dan PT SP akan membangun kembali stasiun tersebut pada pertengahan tahun ini yang sampai sekarang ternyata belum jelas.
“Kami menagih janji ke PT KA dan PT SP. Janji yang diungkapkan dua lembaga itu pada Mei lalu pembangunan kembali Stasiun Semut plus cagar budayanya dilakukan pertengahan tahun ini. Tapi, sampai akhir Juli kok tidak ada kabar dari PT KA dan PT SP,” kata Ketua Komisi C DPRD Kota Surabaya Sachiroel Alim, Jumat (23/7).
Hingga kini pihak PT KA dan PT SP belum memberikan kepastian kapan pembangunan kembali Stasiun Semut plus cagar budayanya akan dimulai. Keduanya, juga belum memberikan jawaban yang pasti atas pertanyaan pemkot dan dewan soal masalah tersebut.
Menurut Sachiroel, dengan kondisi belum ada rencana pembangunan ulang Stasiun Semut menunjukkan ketidakseriusan PT KA dan PT SP untuk ikut melestarikan cagar budaya di tempat itu. Padahal, cagar budaya di Stasiun Semut merupkan warisan budaya bangsa yang harus dijaga warga Surabaya.
Sementara Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudparta) Pemkot, Wiwiek Widayati mengatakan, memang pada Mei lalu ada pertemuan antara pihaknya, dewan, PT KA dan PT SP. Di dalam pertemuan yang digelar di dewan tersebut ada kesanggupan dari PT KA dan PT SP untuk membangun kembali cagar budaya di Stasiun Semut pada pertengahan 2010. Sementara pertehanan 2010 sudah hamper terlewati satu bulan.
Kota surabaya yang berkembang menjadi kota dagang dan jasa mensyaratkan tersedianya kemudahan dan kecepatan akses, terutama di bidang sarana prasarana transportasi. Karenanya, selain menjadi kota transit, Surabaya juga menjadi tujuan bisnis.
Surabaya memiliki luas wilayah administratif yang cukup besar, lebih kurang 32,6 hektar. Sebagai kota dagang dan jasa menjadikan aktifitas warganya sangat membutuhkan akses yang cepat, terutama transportasi. Namun, kebutuhan warga di kota surabaya demikian telah terpenuhi oleh sarana prasarana kota yang memadai.
Untuk menjangkau seluruh sudut kota, warga kota tak perlu kuatir karena Kota Surabaya memiliki kelengkapan sarana dan prasarana transportasi yang memadai. Kota Surabaya memiliki infrastruktur transportasi darat, laut, dan udara yang mampu melayani perjalanan lokal, regional, maupun internasional.
Bandara Juanda melayani penerbangan domestik maupun internasional. Bandara Juanda telah menjadi bandara internasional yang menjadi nadi transportasi udara kebanggaan kota ini. Bandara Juanda menjadi lalu lintas berbagai maskapai yang beroperasi di Indonesia. Baik maskapai yang melakukan penerbangan dari dan ke kota-kota di seluruh Indonesia, maupun maskapai penerbangan ke luar negeri.
Tempat-tempat reservasi pun tersedia di berbagai tempat sehingga memudahkan warga kota yang mau melakukan perjalanan jalur udara.